Subscribe:

Senin, 26 September 2016

Merokok Dalam Islam

Merokok Dalam Islam

Hukum Dalam Islam


Dalam bidang Fikih kita ketahui hukum terhadap suatu perkara, amalan dibagi menjadi lima bagian. Ada amalan yang sifatnya mubah, sunnah, wajib, makruh dan haram. Yang kita kenal makna mubah adalah dipebolehkan / tidak ada larangan.

Sedangkan amalan sunnah (ahli fikih) yang banyak kita kenal adalah sebuah amalan yang jika dikerjakan mendapat pahala dan jika di tinggalkan tidak mengapa. Untuk amalan wajib adalah amalan yang jika ditinggalkan berdosa begitu juga sebaliknya amalan haram jika di kerjakan mendapat dosa. Sedangkan untuk amalan makruh adalah amalan yang dibenci ketika dikerjakan.

Para ulama telah menjelaskan berbagai macam hukum amalan ini dari kelima tingkatan tersebut diatas. Dan hal ini sangat memudahkan bagi kita untuk melakukan skala prioritas ketika menentukan dua amalan yang bertabrakan.

Sehingga ketika amalan wajib bertabrakan dengan amalan sunnah, maka kita dahulukan yang wajib. Bagitu juga ketika amalan yang yang mubah bertemu dan bertabrakan dengan amalan yang sunnah dan kita harus memilih salah satunya maka kita dahulukan amalan sunnah.

Study Kasus 


Mungkin secara teori ketika kita di suguhkan perkara yang hukumnya sudah jelas diatas dan kita tidak ada kepentingan di dalamnya sangat mudah bagi kita untuk memilih amalan. Namun ketika hukum ini sudah masuk ke dalam amalan sehari-hari yang hawa nafsu masuk di dalamnya maka akan menjadi sulit mengambil pilihan.

Sebagai contoh, kita telah mengetahui hukum merokok di kalangan para ulama. Ada yang menyebutkan hukum merokok itu haram mutlak dan ada juga orang yang mengatakan hukumnya adalah makruh. Dan hukum makruh inilah yang lebih di kenal dan pakai luas oleh masyarakat di sekitar kita.

Sehingga tidak jarang kita dapati ketika kita menasehati seorang untuk berhenti merokok maka mereka berdalih dengan alasan kan merokok tidak haram. Kan hukum merokok hanya makruh saja. Maka siapa yang saja yang melakukannya tentu tidak mendapat dosa karena tidak haram.
Hukum Merokok

Maka inilah yang kami katakan sebelumnya, ketika seseorang dihadapkan dalam dua hukum dan harus memilih diantara kedua amalan tersebut tanpa ada kepentingan nafsu maka sangat mudah. Namun ketika ada nafsu yang ikut di dalamnya maka seseorang kurang jeli melihat maslahat yang besar dalam syariat Islam ini.

Coba kita lihat, jika dikatakan hukum merokok itu adalah makruh dengan kata lain bisa dikatakan orang yang merokok itu DI BENCI.

Maka pertanyaannya adalah jika kita memiliki atasan yang telah banyak berbuat baik kepada kita, dan ia tidak menyukai / membenci ketika berbicara dengannya kita merokok. Maka apa yang anda lakukan? Apakah tetap memaksakan diri tetap merokok ketika berbicara berhedapan dengan atasan kita?

Yang kedua, ketika kita akan masuk kantor / kerja. Dimana di tempat kerja, di ruang kerja ada larangan merokok di dalamnya. Maka apakah kita tetap keukeuh untuk merokok di tempat kerja kita?

Dan ini hanya perkara yang urusannya dengan makhluk. Lalu bagaimana pula jika perkaranya berbubungan dengan pencipta kita? Allah yang membeci perbuatan merokok ini? Lalu layakkah jika kita merokok di Rumah-Nya?  

Yang ketiga yang berkaitan dengan hukum Islam. Jika merokok itu hukumnya makruh dan tidak merokok itu tentu hukumnya mubah. Lalu ketika kedua hukum ini bertemu, jika kita mengambil skala prioritas yang benar tentu kita akan memilih hukum yang mubah dan meninggalkan yang dibenci.

Kemudian, selanjutnya. Kita dapati sebagian saudara kita yang gencar mengajak manusia untuk hidup waro. Maka bisa kah seseorang dikatakan telah waro sementara ia mengamalkan amalan yang makruh?

Padahal seorang yang waro itu harusnya meninggalkan apa-apa yang samar baginya sehingga ia tidak terjerumus dalam perkara yang haram. Bahkan ia takut mengamalkan perkara yang mubah sehingga meninggalkannya karena takut terjerumus dalam perkara yang haram.

Maka dapat dikatakan wara’ adalah ibarat dari tidak tergesa-gesa dalam mengambil barang-barang keduniaan atau meninggalkan yang diperbolehkan karena khawatir terjerumus dalam perkara yang dilarang. (Hakikat waro)

Masih Mau Merokok?

Merokok Makruh

Lalu sekarang apakah kita masih mau keukeuh untuk merokok? Padahal sudah jelas bagaimana kedudukan seorang yang merokok di dalam Islam. Yang makruh saja sudah tidak layak di kerjakan, tidak etis. Lalu bagaimana jika ternyata hukum merokok adalah haram?

Mudah-mudahan ini juga dapat menjadi nasehat bagi sebagian kaum muslimin yang giat dalam berdakwah, giat itikaf di masjid dan bersamaan dengan itu ia kerjakan amalan yang makruh bahkan haram ini.

Di kantor saja tidak layak bagi kita untuk merokok, di rumah sakit sudah ada perundangan yang melarangnya, apalagi di Rumah Allah? Tentu ini lebih tidak layak lagi bagi kita untuk mengotorinya dari sampah dan racun rokok ini. Nasalullaha Salamah…


Admin

Sabtu, 24 September 2016

Cara Mencari Modal Bisnis Tanpa Riba

Modal Bisnis Tanpa Riba
Modal Usaha

Seperti yang telah kami tulis sebelumnya mengenai BisnisTanpa Pinjaman Riba Bank Mungkinkah? Dalam hati mungkin akan bertanya-tanya, apakah mungkin? Memulai bisnis tanpa modal pinjaman riba di bank konvensional?

Sementara, sebelum memulai bisnis tentu yang pertama kali menjadi fokus kita adalah modal usaha. Dan tidak semua orang yang ingin memulai bisnis ini tidak memiliki modal usaha berupa uang.

Yang kita ketahui saat ini, untuk solusi bisnis khususnya dalam hal permodalan adalah pinjaman di bank. Karena sementara ini hanya hal tersebut yang umum kita ketahui.

Sehingga tidak jarang kita dapati perkataan, kalau tidak pinjam ke bank maka bisnis tidak akan jalan. Kalau tindak memanfaatkan pinjaman modal ke bank maka bisnis tidak akan berkembang. Bahkan ada yang sampai mengatakan kalau tidak meminjam di bank tidak bisa hidup. Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Padahal kita sadar bahwasannya Allahlah pemberi rizki. Kita sadar Allah lah yang Maha Kaya. Namun mungkin karena lemahnya keimanan kita terhadap Tauhid ini, membuat ucapan-ucapan yang berbahaya ini sering muncul dari lisan kaum muslimin.

Seolah-olah orang yang berbicara dengan anggapan-anggapan diatas tidak memilih Allah yang Maha kaya. Yang Allah selalu memberinya rizki. Dimana Allah tidaklah menutup usia seorang hamba kecuali telah mennyempurnakan rizki untuknya. Maka mana mungkin kita katakan seolah-olah bank adalah penolong dan pemberi rizki satu-satunya, pemberi modal satu-satunya? Sementara umum dikathui permodalan di bank ini, khususnya bank konvensional adalah permodalan riba.

Yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah, jika bukan modal dari bank lalu dari mana? Bagaimana kita bisa mendapatkan modal bisnis tanpa Riba?

Jawabnya adalah, bukankah yang Allah halalkan itu lebih banyak dari yang Allah haramkan? Maka mari kita cari cara halal tanpa riba untuk permodalan bisnis kita agar usaha yang kita lakoni mendatangkan berkah buka murka.

Cara Mendapatkan Modal Bisnis Tanpa Riba


Diantara cara halal yang dapat kita kerjakan untuk mencari modal bisnis tanpa riba adalah sebagai berikut.

Menjual Aset


Diantara cara yang paling mudah untuk mendapatkan modal usaha tanpa riba yaitu dengan menjual aset. Ketika kita memiliki aset, seperti rumah, kendaraan, atau selainnya, maka kita dapat menjualnya untuk dijadikan modal usaha.

Tentu menjual aset ini bukan tanpa perhitungan dan perencanaan yang justru nantinya akan mempersulit kita.

Hendaknya ketika kita akan mengambil jalan ini dalam mencari modal halal dalam bisnis, sebelumnya kita prhitungkan matang-matang usaha kita. Kita buat bisnis plannya dengan rapi dan terencana. Sehingga ketika kita sudah mendapatkan modal ditangan, uang tidak habis dan hilang begitu saja karena tidak berputar.

Pinjaman Tanpa Riba Keluarga


Hal lain yang dapat kita manfaatkan untuk mendapatkan modal usaha tanpa riba adalah pinjaman kepada keluarga. Tentunya maksut pinjaman ini adalah pinjaman tanpa riba.

Kenapa meminjam kepada keluarga? Karena peluang meminjam tanpa riba ini biasanya lebih besar ketika kita meminjamnya kepada keluarga. Tolong-menolong kepada sesama keluarga lebih ringan untuk dilakukan ketimbang tolong menolong kepada orang lain. Dan kepercayaan memberikan pinjaman kepada keluarga ini biasanya lebih besar ketimbang kepada orang lain.

Misalkan ketika kita bisa mendapatkan pinjaman tanpa riba untuk modal bisnis dari keluarga. Dan Alhamdulillah mungkin bisnis kita bisa maju, mendapatkan keuntungan dan berjalan dengan baik. Sehingga kita mampu untuk mengembalikan pinjaman tersebut tanpa menutup usaha kita.

Maka sebuah perbuatan yang baik ketika kita kembalikan utuh pinjaman tersebut kepada keluarga. Dan bersamaan atau setelahnya kita berikan tanbahan sebagai rasa terimakasih kita kepada pemberi pinjaman, baik berupa uang, barang atau selainnya. Dan ini bukan termasuk dalam perbuatan riba selama tidak di syaratkan tambahan ini harus ada dan ditetapkan di awal akad pinjam meminjam. Wallahu a’lam.

Menjadi Pemasar / Reseller


Banyak sekali cara kita untuk bisa melakukan dan memulai bisnis. Bahkan bisnis yang tidak harus di sertai modal uang yang banyak sebelumnya.

Diantara cara yang dapat kita pilih untuk memulai usaha tanpa mengambil modal riba dari bank atau dari selainnya adalah dengan memulai bisnis menjadi Pemasar / reseller produk.

Kita bisa mencari suplyer sebuah produk dimana produk / merk tersebut membuka peluang reseller / pemasar. Tinggal kita mendaftarkan diri menjadi pemasarnya / reseller produk tersebut maka kita sudah bisa menjalankan bisnis tanpa modal riba dari bank.

Mungkin memang sedikit keuntungan yang bisa kita ambil dari bisnis menjadi reseller / pemasar ini. Namun jika kita serius, sungguh-sungguh, telaten, dan kita perhitungkan dengan baik, dari yang sedikit ini bisa kita kumpulkan menjadi modal usaha yang besar yang dapat digunakan untuk membangun bisnis secara pribadi. Yang tentu ini adalah salah satu cara mencari modal tanpa riba.

Mencari Produsen Yang Dapat Dibayar Di Belakang


Memulai usaha tentu tidak hanya melulu kita punya uang, punya modal lalu kita produksi barang dan menjualnya kepada konsumen. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk memulai usaha dengan modal tanpa riba.

Diantara cara tersebut yaitu dengan mencari produsen sebuah produk yang dapat memberikan produknya untuk kita jual kembali dengan sistem pembayaran di belakang.

Dan produsen yang menerapkan sistem seperti ini sudah cukup banyak saat ini. Kita ambil dahulu barang dari produsen dengan kesepakatan sistem pembayaran dibekalan dalam jangka waktu tertentu. Kemudian kita memasarkan barang tersebut dengan keuntungan yang diepakati. Setelah barang laku terjual maka kita bayarkan harga modal yang telah disepakati sebelumnya kepada produsen.

Bisa jadi sistem kerja sama ini berupa kita sebagai murni penjual produk yang kita di berikan fee, komisi berdasarkan banyaknya penjualan produk. Atau pihak produsen memberikan keleluasaan kepada kita untuk menjual barang tersebut dengan harga diatas harga jual produsen kepada kita dengan ketentuan range harga.

Atau selainnya, selama sudah ada kesepakatan sebelumnya antara produsen dengan penjual. Sehingga sang produsen tidak merasa dirugikan, dan kitapun tidak terjatuh dalam perbuatan menjual barang yang tidak dimiliki.

Mungkin ada yang beranggapan cara bisnis seperti ini kurang bisa membuat bisnis kita menjadi maju dan hanya stag di situ-situ saja. Karena kita tidak memiliki kemandirian dalam produk, dalam strategi pemasaran, dan strategi pasar, dan selainnya.

Jika seperti itu, bukankah bisnis yang besar itu dimulai dari yang kecil? Maka kita tekuni dahulu yang kecil, harapannya memlalui usaha ini kita kumpulkan modal sebanyak-banyaknya. Ketika kita rasa sudah cukup, kita jadikan modal ini untuk memulai bisnis mandiri kita dengan keleluasaan produksi, penentuan target pasar dan selainnya. Dan ini Alhamdulillah adalah salah satu cara mencari modal usaha tanpa riba, tanpa ke bank.

Mencari Investor


Diantara mencari modal usaha tanpa riba selanjutnya adalah dengan mencari investor untuk bisnis kita.

Mencari investor ini dapat kita lakukan dengan sebelumnya kita membuat bisnis plan. Kita tawarkan bisnis yang telah kita rancang dengan baik, teliti dan penuh perhitungan kepada orang-orang yang mempu di sekitar kita.

Kita buat proposal, kita ajukan peluang bisnis kepada calon investor. Kita sebutkan peluang bisnis ini dengan rinci, apa keuntungan yang bisa di raih oleh investor dan tentunya dilengkapi dengan risiko yang mungkin terjadi.

Tidak lupa pula kita tuangkan dalam tulisan dan penjelasan kita mengenai bisnis, mengenai bagaimana sistem bagi hasil usahanya. Prosentase perhitungan keuntungan dan bagi hasilnya. Bagaimana ketika usaha untung, dan bagaimana ketika usaha mengalami penurunan dan mungkin risiko kerugian.

Setelah kita mampu meyakinkan calon investor usaha kita, yang harus kita pahami bahwasannya investor ini adalah pemilik usaha yang kita jalani, jika ia adalah investor muni satu-satunya dalam usaha. Dan kita bertindak sebagai pelaksana usaha.

Maka ketika mendapat untung, kita membagikan keuntungan berdasarkan prosentase yang telah di sepakati dan ketika mengalami kerugian pengelola bisnis tidak memiliki kewajiban untuk mengembalikan modal awal. Selama kerugian itu bukan kerena keteledoran pengelola.

Begitu juga penentuan bagi hasil dari usaha. Tidak boleh ditentukan pasti sekian rupiah yang bisa di dapatkan oleh investor dengan modal yang di masukkan. Namun pembagiannya hanya berdasarkan perkiraan prosentase yang tiap bagi hasinya bisa berbeda-beda bergantung untung atau ruginya usaha.

Perhitungan bagi hasil ini di dasarkan pada keuntungan per periode bagi hasil. Bukan di dasarkan pada besarnya investasi modal.

Untuk lebih mengetahui sistem syari dalam pengelolaan bisnis bagi hasil dengan investasi ini, anda dapat langsung berkonsultasi dengan ustadz / orang yang berkopetennsi dalam bidang fikih Islam di sekitar anda.

Dan ini adalah salah satu cara yang halal untuk mencari modal bisnis tanpa riba. Karena betapa banyak orang yang berada di sekitar kita. Namun terkadang kita lalai dan tidak memanfaatkan peluang ini.

Pertanyaan yang mungkin muncul, apakah mereka (orang yang berada) itu mau mengucurkan investasi kepada kita dengan sistem yang syari?

Jawabnya bergantung kepada kita. Apakah kita bisa menjadi orang yang terpercaya, orang yang amanah atau tidak? Apakah kita memiliki track record sebagai orang yang amanah atau tidak? Apakah kita mampu meyakinkan mereka untuk mau berbisnis dengan kita? Apakah konsep bisnis kita sudah matang atau hanya sekedar main-main saja?

Jika kita sudah bisa menjadi orang yang bisa dipercaya dan amanah. Bukan orang yang serba “afwan”. Ketika meminjam uang, jatuh tempo jawabnya afwan. Ketika kerja sama usaha waktu bai hasil menghilang dan datang-datang jawab afwan.

Dan juga tentunya kita memiliki konsep yang matang dalam bisnis yang akan kita jalani. Bagaimana sistem perencanaan, pengadaan barang, produksi, pemasaran, pengelolaan karyawan, perhitungan bisnis, pengelolaan usaha, hingga playanan purna jual.

Ketika kita sudah bisa menjadi orang yang amanah, memiliki skil dan matang dalam perencanaan usaha dan pengelolaannya, maka insyaa Allah dengan sedikit usaha dan upaya kita bisa mendapatkan investor untuk usaha kita. Sebagai bentuk permodalan bisnis tanpa riba, syari dan insyaa Allah dapat mendatangkan berkah dalam bisnis kita.

Dan lain-lain


Karena mungkin tulisan ini sudah terlalu panjang, insyaa Allah tips dan cara mencari modal tanpa riba kami sampaikan dalam tulisan berikutnya. Insyaa Allah masih ada beberapa point cara mencari modal bisnis tanpa riba beserta sedikit penjelasan singkatnya.

Mudah-mudahan yang sedikit ini bisa bermanfaat. Dan mudah-mudahan ini dapat menjadi ssalah satu solusi untuk terhindar dari riba bagi kita semua. Serta mudah-mudahan ini dapat mendatangkan ridho Allah dan kebarkahan bagi kita semua. Amiin.


Admin